SELAMAT DATANG

you can find anything

Loading

Takut: Faces of Fear

| Kamis, 10 Februari 2011 | |







Poster 'Takut' rilisan Indonesia (2008)
Produser Brian Yuzna
San Fu Maltha
Distributor Komodo Films
Durasi 91 menit
Negara Bendera Indonesia Indonesia
Takut: Faces of Fear merupakan film antologi horor dari Indonesia yang dirilis pada tahun 2008. Film ini dibintangi antara lain oleh Dinna Olivia, Fauzi Baadila, Marcella Zalianty, Shanty, Lukman Sardi, Eva Celia Latjuba, dan Mike Muliadro. Film ini diputar secara premier di Indonesia Internasional Fantastic Film Festival (iNAFFF) 2008 pada tanggal 14-23 November 2008 di Jakarta dan di Bandung tanggal 28-30 November 2008 yang diadakan oleh jaringan bioskop Indonesia Blitzmegaplex. Berbagai macam jenis film horor ditawarkan di festifal tersebut, dimana Takut menjadi salah satu film yang menjadi pusat perhatian.[1] [2]
Film Takut lahir dari asuhan Komodo Films, dan merupakan sebuah kompilasi film horor pendek dari tujuh sutradara yang menghasilkan enam segmen film dalam satu antologi. Film pendek tersebut disutradarai secara berurutan oleh Rako Prijanto, Riri Riza, Ray Nayoan, Robby Ertanto, Raditya Sidharta, dan The Mo Brothers (Kimo Stamboel & Timothy Tjahjanto). Takut mulai diputar premier di lingkup internasional di International Film Festival Rotterdam 2009. [3]

Daftar isi


Segmen film

Show Unit

Show Unit (bahasa Indonesia: Rumah Contoh)) adalah film horor seru yang merupakan segmen pertama dari film Takut, disutradarai dan ditulis oleh Rako Prijanto. Sejalan dengan peribahasa Indonesia, "Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga", melalui film ini Rako Prijanto ingin memperlihatkan bagaimana kekhilafan sesaat dapat menghancurkan kehidupan seseorang selamanya. Film pendek ini mendapatkan rating dari Shortmovie Meter 83/100
Plot
Bayu (Lukman Sardi) dan Dinna (Marcella Zalianty) adalah pasangan yang bulan depan akan menikah dan saat ini tinggal di sebuah kompleks perumahan mewah. Dinna dahulu bercerai dengan suaminya Andre (Donny Alamsyah) dimana dari pernikahan itu berbuahlah seorang putri bernama Shira. Dalam pesta di rumah tetangganya, Bayu melihat lampu rumahnya menyala dan menyangka rumahnya dimasuki oleh perampok. Bayu pun masuk dengan menggenggam pisau dan berusaha mencari perampok, namun malah menusuk Shira yang ternyata hanya ingin mengagetkan Bayu saja. Berkeringat dingin karena membunuh Shira yang tidak bersalah, dalam ketakutannya Bayu memasukkan mayat Shira ke dalam bagasi mobilnya. Saat itu, Andre yang ingin menjemput Shira, berusaha masuk ke dalam rumah tapi terus dihalangi Bayu. Bayupun terpaksa membunuh Andre yang kebetulan melihat isi bagasi mobilnya. Bayu berniat memasukkan mayat Andre ke dalam bagasi mobilnya, namun saat membuka bagasi, ia kaget melihat mayat Shira sudah tidak ada. Karena bingung, Bayu cemas dan hanya bisa membuang mayat Andre saja.
Keesokan paginya, seorang penelpon misterius menghubungi Bayu dan berkata kepada Bayu apabila ingin tahu dimana mayat Shira, Bayu harus mengikuti instruksinya. Kehilangan Shira ditutupi oleh Bayu sebagai sebuah penculikan. Bayu pun memasukkan uang tebusan ke dalam tempat sampah di taman kompleks perumahan, namun segera kembali ke rumah, mengetahui lokasi mayat Shira berada di rumahnya sendiri. Dinna yang duduk di sofa rumahnya melihat tetesan darah dari plafonnya. Dia menyenggol plafon itu dengan sapu dan bersamaan dengan itu Bayu yang datang, melihat mayat Shira yang telah busuk terjatuh dari plafon secara mengerikan. Sang penelepon misterius tersebut tetap tidak diketahui identitasnya.

Titisan Naya

Titisan Naya adalah film horor yang merupakan segmen kedua dari film Takut, disutradarai dan ditulis oleh Riri Riza. Film ini mengolah latar belakang kepercayaan mistis kejawen yang dianut oleh masyarakat Jawa, dimana makhluk gaib, arwah leluhur, dan ritual-ritual mistis begitu menonjolkan nuansa misterius Indonesia. Melalui segmen ini, Riri Riza menggarap segmen ini sebagai solidaritas dengan sutradara generasi muda Indonesia, sekaligus ingin menggambarkan sikap sinis yang kerap ditunjukkan generasi muda Indonesia terhadap warisan kebudayaan mereka. Film pendek ini mendapatkan rating tertinggi dari Shortmovie Meter dari seluruh film, 96/100.[4]
Plot
Naya (Dinna Olivia) adalah seorang gadis berpola pikir metropolitan dan modern. Namun ia dilahirkan di keluarga Jawa yang adat-adatnya masih dipertahankan. Malam itu Naya harus menginap di tempat keluarga jauhnya yang sedang mengadakan sebuah upacara cuci keris keramat adat kejawen bersama seluruh anggota keluarga besar. Bukannya mengikuti, ia malah merayu sepupunya Leo (Junior Liem) di kamar atas. Diatas, Leo memperingatkan Naya atas sikap Naya yang acuh dan kurang ajar terhadap upacara tersebut. Saat Naya dan Leo hampir berciuman, lampu mati tepat saat ayam yang digunakan sebagai prosesi ritual meninggal. Dalam kegelapan, Naya kehilangan Leo yang mencari Ibunya, dan Naya yang mencari di bawah, melihat seorang wanita penari Jawa berada di tengah aula yang seharusnya dipenuhi sesajen dan keluarga Naya yang menyaksikan pencucian keris. Naya sendiri yang dengan bantuan cahaya ponselnya, terus menerus melihat penampakan arwah leluhurnya yang tidak terima dihina keturunannya sendiri. Naya yang ketakutan, ternyata terperangkap dalam ilusi yang dibuat oleh para leluhurnya. Sementara tubuh Naya, kerasukan dan menari ditengah aula seperti yang Naya lihat didalam ilusinya.

Peeper

Peeper (bahasa Indonesia: Pengintip) adalah film horor erotik yang merupakan segmen kedua dari film Takut, disutradarai dan ditulis oleh Ray Nayoan yang masih relatif baru dalam perfilman Indonesia saat film ini dirilis. Menurut Ray Nayoan, film pendek ini adalah tribut untuk film seksploitasi Indonesia yang ingin memperlihatkan sedikit tentang sisi budaya voyeuristik di Indonesia. Dalam dunia sinema, dimana sisi eksotik sering diartikan sebagai erotik, teater Wayang Orang dapat menjadi media transformasi yang lebih halus, dan Ray Nayoan memilih cerita wayang Sarpanaka, adik raja Rahwana yang merupakan wanita penggoda, untuk menunjukkan bahwa dunia wayang yang keramat juga membawa muatan kekerasan dan erotika. Bahwa wayang tidak hanya sekedar tentang kemenangan kekuatan baik melawan jahat, namun tentang adanya kejahatan itu sendiri. Melalui segmen ini, Ray Nayoan sebagai lulusan sekolah film Kanada dan penggemar aktif film eksploitasi Indonesia tahun 80-an ingin memancarkan kembali sisi seksploitasi dalam perfilman Indonesia. Film pendek ini mendapatkan rating dari Shortmovie Meter 90/100.
Plot
Bambang (Epy Kusnandar) adalah seorang pria yang bertugas sebagai petugas kebersihan / cleaning service yang sangat gemar dengan hobi (voyeur), dimana ia sangat mencintai dan menikmati keindahan tubuh wanita melalui lubang intip. Suatu hari ia mengunjungi sebuah teater yang menyuguhkan pertunjukan wayang orang. Bambang diberikan tiket gratis oleh seorang pengelola teater itu, dan menonton pertunjukan tentang Sarpanaka (Wiwid Gunawan). Bambang terpikat dengan gemulai dan misteriusnya penari Sarpanaka dan ingin sekali menikmati keindahan tubuh sang penari wanita tersebut. Setelah pertunjukan selesai, Bambang menyelinap ke belakang panggung dan mengintip kamar ganti wanita itu. Bambang yang lengah sejenak, kaget melihat wanita itu menghilang. Pintu tidak dikunci dan Bambang masuk ke kamar itu, dan menemukan bahwa kamar yang dikiranya kosong itu menyimpan bola-bola mata yang diawetkan. Sebelum ia sempat kabur, penari wanita misterius itu ternyata bersembunyi di balik pintu dan mengunci pintu. Bambang terhipnotis oleh gerakan sensual wanita misterius dan jadi terduduk setengah sadar. Lalu wanita itu mengenakan topeng Jawa dan kuku palsu panjang yang digunakan sebagai ornamen pertunjukan wayang, dan mencungkil mata Bambang. Hal itu disaksikan oleh pengelola teater yang memberikan tiket kepada Bambang, karena ialah yang menjadi dalang pencari korban sang wanita misterius. Wanita misterius itu ternyata mendapatkan kecantikan dan kemolekan tubuh dengan mengambil mata milik pria-pria yang menyukai kemolekannya.

The List

The List (bahasa Indonesia: Daftar) adalah film horor komedi yang merupakan segmen keempat dari film Takut, disutradarai dan ditulis oleh Robby Ertanto yang adalah lulusan baru IKJ (Institut Kesenian Jakarta) saat film ini dirilis. Skenario film ini ditulis oleh Brian Yuzna, produser film Takut dan juga pionir Komodo Films. Menurut Robby Ertanto, pengalamannya dalam mengembangkan skenario tersebut bersama Brian Yuzna, bekerja bersama aktor Shanty dan Fauzi Baadila, dan menyaksikan hasil karya ahli spesial efek Orlando Bassi telah memenuhi impiannya dalam membuat film horor komedi. Film pendek ini mendapatkan rating dari Shortmovie Meter 63/100.
Plot
Andre (Fauzi Baadila) menemukan dirinya mulai terganggu oleh ilmu santet aneh yang dikirim oleh mantan pacarnya yang pencemburu, Sarah (Shanty). Sarah yang dendam kepada Andre membayar seorang Dukun (Ahmad Syaeful Anwar) yang disewa Sarah untuk menghukum Andre dalam serentetan adegan serangan ilmu hitam yang lucu namun menyeramkan. Sarah meminta dukun tersebut agar ia bisa melihat Andre dan supaya Andre bisa melihat Sarah juga. Dan demikianlah yang terjadi, Sarah melihat Andre dalam pantulan air sang Dukun dan Andre melihat Sarah dengan TV-nya. Saat Andre akhirnya sekarat oleh seekor kalajengking yang memasuki kepalanya, Andre berkata bahwa ia juga menyewa dukun juga. Sebelum Sarah mengerti maksudnya, Andre meninggal secara mengerikan. Sarah tiba-tiba mendapati perutnya diisi kelabang dan juga mati secara kesakitan dan tidak kalah mengerikan. Dalam catatan sang Dukun, tertulis di akhir catatan santet yang bertuliskan "serangan kelabang". Ternyata Andre telah membayar dukun yang sama untuk mencelakai Sarah.

The Rescue

The Rescue (bahasa Indonesia: Penyelamatan) adalah film horor baku tembak yang merupakan segmen kelima dari film Takut, disutradarai dan ditulis oleh Raditya Sidharta, sutradara video musik veteran Indonesia yang baru saja merilis film debutnya The Shaman (2008). Menurut Raditya Sidharta, film pendek ini diinspirasi dari keingintahuannya tentang aktivitas pemerintah negara asing di Indonesia, khususnya proyek NAMRU-2 (Naval Medical Research Unit 2) yang dijalankan pemerintah Amerika Serikat, dan mempertanyakan kesiapan pasukan pertahanan Indonesia dalam kasus darurat yang dapat timbul dari ancaman asing seperti operasi tersebut. [5] Proses pembuatan film ini didukung sepenuhnya oleh pasukan khusus Polri Gegana, dimana para aktornya mendapat pelatihan khusus dan intensif selama satu minggu. Film ini disyuting di kota Jakarta lama dan di bawah pengawasan Brian Yuzna, produser film ini. Film pendek ini mendapatkan rating paling rendah dari Shortmovie Meter, 62/100.
Plot
Ledakan "Laboratorium Namro-4" di Jakarta membuat sebuah virus aneh menyebar dengan ganas, membuat Jakarta diambang kehancuran dan menjadikannya kota mati yang secara resmi dikarantina. Jakarta kini dipenuhi sekelompok 'manusia' haus darah yang memburu semua makhluk yang bergerak untuk dimangsa. Tim Gegana dikirim ke kota Jakarta dalam sebuah Operasi Penyelamatan untuk mencari sisa-sisa manusia yang belum terjangkit. Gadis (Eva Celia) dan Anton (Sogi Indra Dhuaja)adalah warga sipil yang berhasil ditemukan oleh tim Gegana yang turun dalam operasi tersebut, yaitu Antariksa (Reuben Elishama), Ngurah Rai (Ananda George), dan Hatta (Tegar Satrya). Cerita ini menceritakan usaha tim tersebut untuk keluar dari sebuah gedung yang menjadi sarang ribuan "manusia ganas" ke gedung lain yang menjadi titik penjemputan helikopter penyelamat. Hatta meninggal dalam perjalanan tersebut, sementara Anton dan Antariksa yang berpencar dari lainnya, berhasil sampai duluan ke tempat tersebut. Gadis dan Ngurah Rai hampir sampai ke tempat itu, tetapi seorang manusia terinfeksi menyerang dan menggigit Ngurah Rai secara tiba-tiba. Antariksa berhasil menghalau manusia ganas itu dan dalam kesedihannya terpaksa membunuh Ngurah Rai yang telah terinfeksi virus. Antariksa, Anton, dan Gadis mendengar suara helikopter datang, dan naik ke helikopter tersebut, tanpa menyadari bahwa mata Gadis memancarkan warna aneh yang mengindikasikan bahwa dia juga telah terjangkit virus ganas tersebut.

Dara / Darah

Dara atau juga Darah adalah film horor komedi hitam jagal yang merupakan segmen terakhir dari film Takut, disutradarai dan ditulis oleh dua sahabat Kimo Stamboel dan Timothy Tjahjanto (dikredit sebagai "The Mo Brothers"). Keduanya adalah lulusan Australian Film School yang sekarang bekerjasama untuk membawakan film ber-ragam slasher di Indonesia. Film ini juga merupakan sekuel lepas dari film Macabre yang saat film ini dirilis sedang mereka sutradarai. Menurut The Mo Brothers, 'Dara' adalah sebuah usaha mereka untuk membawakan sesuatu yang sama sekali baru dalam latar perfilman horor Indonesia, sebuah film purwarupa yang mengkombinasi beberapa ragam seperti thriller, slasher, dan komedi hitam. Film ini adalah segmen penutup dan puncak dari film Takut, yang telah lebih dahulu diputar dalam ScreamfestIndo 2007, namun baru kali ini dirilis sebagai bagian dari sebuah film antologi. Film pendek ini mendapatkan rating kedua tertinggi dari Shortmovie Meter, 93/100.
Segmen Dara pada tahun 2010, dirilis dalam sebuah film horor fitur dengan judul "Rumah Dara" dengan Shareefa kembali sebagai tokoh antagonis utama yang sama.
Plot
Dara (Shareefa Daanish) adalah seorang juru masak sekaligus pemilik sebuah restoran mahal. Perawakan Dara yang anggun dan cantik membuat banyak pria tertarik dan datang ke rumahnya. Adjie (Mike Muliadro), Eko (Dendy Subangil), dan Rama (Ruli Lubis) datang di waktu yang hampir bersamaan, padahal Dara sudah mengatur mereka untuk datang di malam berbeda. Adjie yang memang direncanakan datang malam itu oleh Dara, diberi obat tidur dan dikurung di kamar jagal yang berisi potongan-potongan tubuh manusia. Sebelum Dara sempat menghabisinya, Eko datang dan membuat Dara terpaksa meniggalkan Adjie dalam keadaan terikat tak berdaya. Eko pun disediakan makan malam oleh Dara. Dalam suasana tak terduga, Rama pun juga datang dan juga dihidangkan makan malam oleh Dara. Musik klasik mengiringi pembicaraan mereka berdua, tapi, Adjie berhasil melepas penutup mulutnya dan tentunya berteriak minta tolong di tengah proses melepaskan diri itu. Hal itu membuat Eko curiga, saat ia berdiri, Dara yang sudah menyiapkan banyak senjata dibawah meja makan, mengambil golok dan menggorok leher Eko hingga Eko menggelepar di lantai, sementara Rama hanya terduduk mati kutu karena ketakutan.
Adjie berhasil keluar dari kamar dan menyaksikan bagaimana Rama dipenggal oleh Dara secara mengerikan. Adjie tak dapat lari meninggalkan rumah tersebut karena Dara sedang mengeksekusi Rama di satu-satunya pintu keluar. Adjie terpaksa bersembunyi di kamar jagal yang menjadi tempat pertama ia disekap. Dara pun kembali ke kamar jagalnya dan disana terjadi serang-serangan menakutkan oleh Dara, namun Adjie berhasil kabur meninggalkan sebilah pisau tertancap di tangan Dara yang berteriak kesakitan dengan mengerikan. Adjie pun berhasil keluar dari rumah Dara dan bersiap menyalakan mobil, namun kuncinya terjatuh ke bawah. Saat itu Dara tiba-tiba muncul dan mengayunkan gergaji mesin ke tubuh Adjie dengan sadis dan membunuhnya. Film diakhiri dengan Dara kembali di restoran larisnya. Dara berjalan ke belakang restorannya untuk mengambil stok daging yang ternyata adalah daging manusia. Dara pun tersenyum menakutkan saat melihat semua pelanggan restorannya tampak menikmati hidangan dagingnya, dan berjalan seiring latar film menjadi hitam, dan Dara tersenyum tersungging menghadap penonton.

Catatan produksi

Pranala luar

Referensi


sumber : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

0 komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA